Minggu, 30 Oktober 2011

Becoming a Runner Up!

   Actually, I'm now doing my assignment(SSS) - it's more than one, so I'm using triple "s"! - but suddenly I remember one thing! I-haven't-posted-my-story-about-becoming-a-runner-up! Hihi :p Well, I will break from my assignment(SSS) for some minutes to complete my story! B-)

   It's last week (22/10/11). Gereja gue mengadakan festival Vocal Group untuk kategori remaja+pemuda/i berdasarkan WIJK (daerah perumahan tinggal jemaat). Kebetulan WIJK tempat gue tinggal bernama WIJK Galilea. Ohya 1 team diharuskan berjumlah 7-10 orang. Besar hadiah adalah: Juara I mendapatkan Rp 10.000.000,- Juara 2 mendapatkan Rp 7.000.000,- Juara 3 mendapatkan 5.000.000,- Juara harapan I,II,III mendapatkan @ Rp 1.000.000,- dan 4 team yang tidak mendapatkan juara diberi @ Rp 500.000.-. Singkat cerita, melalui proses panjang pemilihan personel tetap WIJK gue, yaitu WIJK Galilea, akhirnya terkumpul lah 10 orang. They are: I myself (berperan sebagai suara 1 & mendapat bagian solo), Ester (adek gue, berperan sebagai suara 2 & mendapat bagian solo), Elda (yeah, adek gue lagi; sebagai pianis team kami), John (berperan sebagai suara 1), Bobby (berperan sebagai suara 1), Herry (berperan sebagai suara 1), Masta (berperan sebagai suara 2 & mendapat bagian solo), Gerald (berperan sebagai suara 1), Rina (berperan sebagai suara 3), dan Mariana (berperan sebagai suara 1). Gue, merupakan the oldest personnel :D Dan secara nggak langsung jadi "mommy" nya anak-anak. Btw, range umur mereka 13-19.

   Sewaktu latihan yang cuman sekitar 7x, kita tuh banyak menemukan kendala-kendala. Kita banyak banget cekcok waktu latihan hahaha. Untungnya, pelatih kita, yaitu bokap gue sendiri, memandu kami dengan baik sekali. Awalnya gue udah sempet hopeless karena vokal kita masih hancur-hancur dan nggak sesuai, tapi menjelang hari H lomba, kita memukau diri kita masing-masing karena team kami sudah jauuuuh lebih baik cara bernyanyi dan koreo grafinya :) :) Singkat cerita, team kami menyabet juara 2!!!!!!!!!! Lega, seneng, bahagia, puas, dan norak deh waktu kami tau kalau kami mendapat juara 2 hahahaha. Ternyata usaha kami untuk latihan sampe suara habis terbayar sudah :) But, deep down in my heart, I'm kinda missing our group togetherness when practicing. Untuk itu, sehari setelah lomba, kami menghabiskan waktu untuk shopping bareng, lunch bareng, jugaaaa main timezone bareng hehehe. I love my team!! Once again, congratulation Galileaaaaaaa! :)


p.s: The songs we sang are "Tetaplah Hidupmu Dalam Dia" & "Gohi Au Tuhan". Well, unfortunately, there's no video when we're singing :( :( :( :(

Selasa, 11 Oktober 2011

Ubud Writers and Readers Festival 2011

   Hello! I really couldn't wait to write my journey during Ubud Writers and Readers Festival 2011! There are TOO MANY experiences and stories I have to write because my journey during there was really cool! Well, okay, here it is written: my story :)



   On the 3rd October 2011, gue dan kedua temen gue; Delia dan Icha, berangkat ke Bali. This is our longest trip ever without our family around! Kita berangkat ke Bali dalam tujuan menghadiri acara Ubud Writers and Readers Festival 2011 yang disponsori sama ANZ. We're really excited, but also nervous because we had a job there for 5 days! Pesawat yang kita tumpangi (asik, bahasanya baku banget) mengalami traffic light sehingga kami bertiga mesti menunggu keberangkatan penerbangan di dalam pesawat selama kurang lebih 40 menit. Sempet bosen sih, but thank GOD, we arrived in Bali safely, also hungrily :D Waktu nyampe bandara Ngurah Rai awalnya mau maem dulu, tapi taunya supir yg ditugasin sama Miss Nove udah langsung ngejemput kita. Yasudah, kita langsung cuss ke guesthouse tempat kita bakal stay selama 8 hari. Supir ini baik dan ramah banget, loh. And you know what? We found that 90% of Balinese people are really really nice and friendly! :') That was the reason why me and my friends fall in love with Ubud. They got wonderful and warm people everywhere! Huhu *nyeka air mata* Ok, so, that's the beginning of our story.

   Tanggal 4 Oktober 2011, gue dan kedua temen gue bangun pagi-pagi. Rumah Ibu Cat, our lovely guesthouse, sangatlah hijau dan segar. Udaranya jadi sejuk bgt, sampai-sampai gue menghadapi 2 pilihan sulit: lekas bangun buat menikmati sinar matahari pagi, or continue my sleep karena udaranya super enak buat tidur! Lol. Tapi akhirnyaaa pilihan jatuh kepada lekas-bangun-buat-menikmati-sinar-matahari-pagi karena jam 11 kita bertiga harus udah ada di Left Bank Lounge, buat menghadiri briefing. Nah, sewaktu briefing iniii, kita bertiga masih kayak kambing cengok, nggak ngerti mau ngapain. Sempat pula duduk di teras depan lounge dan menghalangi orang-orang untuk masuk-,- Pokoknya kayak anak ilang, deh! Sempat pula terlontar ucapan "pengen pulang" dari mulut kami bertiga karena merasa "lost" banget. Tapi untungnya, ada seorang anak volunteer lain, namanya Tika, yang nyamperin kita lalu ngajak ngobrol sampe kita merasa semuanya bakal baik-baik aja. Dan ternyata, itu terbukti. After we had met Tika, we also met many other people and we talked to them. Once again, they're really nice! Ketakutan kami pun lama-lama lenyap sudah.

   Memasuki masa-masa kerja, yaitu dari tanggal 5 Oktober 2011, "hidup keras" pun dimulai :D Gue menyebutnya "hidup keras" karena selama jadi Volunteer buat UWRF, gue dan ketiga temen gue bukan liburan. Kita bener-bener kerja, bener-bener serius. Sebisa mungkin, gue dan temen-temen gue ini bersikap professional. For an instance: I, Delia, and Icha CANNOT ride a motorbike, padahal di Ubud itu, GAK ADA ANGKOT. Jadi, otomatis selama di sana, kita mesti kesana-kemari jalan kaki or naik sepeda. Jalanan di Ubud itu nanjak, dan dari guesthouse ke berbagai tempat kerja or basecamp (buat ngambil free lunch) itu jauh banget. Misal, dari basecamp ke guesthouse kalau jalan kaki 40 menit plus ngos-ngosan, dan kalau naik sepeda 20 menitan, juga plus ngos-ngosan. Tapi, walaupun begitu, kita nggak pernah terlambat dateng ke tempat kerja, dong! *cieee* Selama di sana kita juga melakukan penghematan, yaitu makan dengan duit seadanya. BUKAN pelit, tapi kita berusaha tidak meminta transferan uang tambahan selama di Bali dari orangtua, jadi buat makan pagi kita SELALU beli S*ri Roti buat sarapan, untuk lunch kita makan makanan gratis yang disediain buat para volunteers di basecamp, lalu for supper? Mie instant :D Tapi untuk makan malam, kita nggak selalu makan mie instant, sih. Kadang kita beli sate yang seharga Rp 6000 or martabak telor seharga Rp 12000 hehe. Impian gue makan ayam betutu di Bali pun pupus sudah :D Eh iya, untungnya makan malam pertama kami di sana ditraktir sama Pande, temennya Miss Nove dan Miss Nove serta Kartika, temannya yang baik hati juga pernah membuatkan kami sarapan hehe :"> Tapi, dengan cara sederhana kayak gini, kita jadi merasa tough dan mandiri, loh! Gue juga merasa sehat banget karena nggak sembarang ngemil-ngemil dan kita membiasakan diri untuk berjalan kaki (Itung-itung olahraga). Kita sadar, kalau kita harus beradaptasi dengan berbagai lingkungan berbeda. Intinya, menyesuaikan diri dimanapun kita berada. Karena toh gue nggak nyesel sama sekali ikutan acara UWRF ini. I got PLENTY GREAT things from this event! Sesuai peribahasa yang berlaku, "Berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian; Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Huehehehe.

   Masa-masa dimana gue kerja sebagai volunteer di bagian Children & Youth Program itu BENAR-BENAR menyenangkan! My partner was a very nice Scottish woman names Christina McMellon. She's a british woman that means she's really good in English :D Gue banyak sekali bertukar pikiran sama dia. She's also an open-minded person, whom I really like. She told me not to be afraid to speak incorrectly because the most important part is I speak. She also said that my English is very great :p I don't know whether she was honest or she just triend to build a good relationship with me, but I don't care! She's my great partner and we're friends! :D Who cares about grammar? :D Nah, selama kita berdua kerja di bagian Children & Youth Program, kita merasa klop banget. We were working to help the writers when they held a seminar in Bale Banjar Ubud. Sometimes, pekerjaan gue merangkap sebagai translator, terutama ketika seminarnya merupakan bilingual section, juga sebagai translator untuk Christina, karena di seminar yang bukan bilingual section, she couldn't catch anything! Of course it happened because Christina only speaks English and Lao; (she's now living in Laos, taking her phD). I don't mind it because it's one of great opportunities for me to improve my English, wasn't it? Huehehe.

                                            (My volunteer ID card)

                                            (My volunteer friends & I)

   Selama mengikuti UWRF 2011, gue banyak mendapatkan teman-teman dari mancanegara: Australia, Inggris, Amerika, India, dan dari berbagai belahan wilayah Indonesia. Di situlah gue juga merasakan gimana bahagianya gue waktu gue banyak menemukan teman-teman dengan kesamaan interests dengan gue. Kami sama-sama suka belajar budaya, lalu kita melakukan perbincangan pertukaran budaya. Kami sama-sama suka nulis, jadi gue diberi tahu mengenai peluang-peluang untuk mempublish tulisan-tulisan gue. Kami sama-sama suka baca buku, yang membuat gue bisa sama-sama mengeluhkan ending mengecewakan dan cheesy dari sebuah buku bagus. Kami sama-sama suka travelling, yang membuat gue dapet "janji" bahwa suatu hari nanti, kalau gue berkunjung ke negara/kota tempat dimana mereka tinggal, gue boleh tinggal gratis tis tis di rumah mereka (asik abis). Selain mendapatkan teman-teman yang seumuran dan berusia lebih tua, gue juga mendapatkan teman-teman kecil yang berasal dari 2 SMP di daerah Bojonegoro. 5 hari gue kerja di bagian Children & Youth Program, 4 kali lah, anak-anak ini menghadiri seminarnya. Gue pun jadi mengenal mereka, beserta guru-guru mereka, juga student Liason mereka, mbak Amel. And you know what? I think I was really  blessed because they are super kind and sweet! Gue sering bercanda sama anak-anak ini, terutama waktu mereka kedapetan ngomongin anak bule yang ganteng pake bahasa Indonesia, dan ternyata busted banget: si anak bule ini bisa ngomong bahasa Indonesia :D :D Guru-guru mereka juga baiknyaaa ya ampun. Gue nggak tahu kenapa gue sangat terberkati bisa mengenal orang-orang baik kayak mereka, deh! Di hari terakhir gue ketemu anak-anak manis ini serta guru-gurunya, yaitu di acara closing party, gue sempat meninggalkan teman-teman gue untuk ngobrol-ngobrol juga taking pictures together with these Bojonegoro people. It was really fun! Tapi, juga agak mengharukan karena gue inget banget salah satu dari mereka bilang ke gue, "Mbak, ini hari terakhir kita ketemu, ya. Besok kita udah pisah". Huhu :( :( *masih terharu ingetnya* Mereka juga kemudian menanyakan facebook serta my cellphone number. Lalu mereka juga sempat nanya-nanya tentang Jakarta, karena sebagaian besar dari mereka belum pernah ke Jakarta. Meilina, salah satu dari anak-anak itu bilang sama gue bahwa di Bojonegoro itu terkenal sebagai wilayah penghasil minyak. *Sip! I've put it on my memory, dear!* Ohya gue juga bertanya sama mereka bahwa kalau suatu hari nanti gue berkunjung ke Bojonegoro, bolehkah gue nginep di rumah mereka? And their answer was really sweet: "Boleh banget, mbak" :"") Gue juga berjanji, kalau mereka dateng ke Jakarta gue bakal jadi free guide mereka yang juga bakal menyediakan free home stay! Aaaa, they're such little angels! I miss them already, anyway...

   Having parties and attending seminars during UWRF 2011 were also great memories to be remembered! Saturday night party was SUPERB GREAT! :D We were dancing under the moon happily! Sempat juga hujan rintik-rintik tapi nggak membubarkan kebahagiaan kita malam itu. We kept dancing until mid night! :D It was really fun. Bahkan temen gue, seorang anak India polos aja ikut joget walaupun sambil bawa ransel di punggungnya :D Lucunya, temen gue yg paginya kerja bareng gue buat seminar anak-anak, ternyata malam itu berubah menjadi seorang DJ! Haha, super kewl! Mereka merupakan orang-orang yang professional, dan baik hati sekali. Sumpah, gue sama sekali nggak menyesal kenal sama mereka semua. Hiks!

   Menghadiri seminar juga merupakan hal yang menyenangkan. Karena dari berbagai seminar yang sempat kami hadiri, kami mendapatkan banyak wawasan tambahan; terutama mengenai kehidupan. Gue belajar banyak mengenai karakter orang melalui seminar-seminar UWRF. Salah satunya adalah seminar metalnya mbak Djaenar Maesa Ayu, seorang penulis kontroversial yang menurut gue, merupakan salah seorang pekerja seni hebat melalui karya-karya beraninya. Cok Sawitri juga merupakan senimanwati yang inspiring bagi gue, terutama untuk hasil-hasil karya theaternya, yang even gue nggak terlalu ngerti cukup membuat gue merasa HARUS berani tampil beda dan sekali lagi, open-minded. Dan Trinity, penulis favorit gue, yang 2 seminarnya nggak bisa gue hadiri karena bertabrakan sama jam kerja gue di sana, ternyata sangat murah hati. Gue sempet ketemu dia, ngobrol, juga foto bareng dan dapet tanda tangan seusai dia menjadi chair dari sebuah seminar. Pokoknya, acara UWRF ini sangat sangat sangat bermanfaat bagi gue, dan banyak sekali memberikan gue pelajaran bagus dan berarti buat bekal hidup gue nantinya. Juga yang lebih penting, friends. I got so many friends from all around the world. Because of that, tanggal 9 Oktober 2011 pada malam harinya, dimana gue dan temen-temen harus berpisah dengan teman-teman sesama volunteer lainnya, merupakan perpisahan berat yang sempat bikin gue nggak pengen pulang ke rumah. Kita saling berpelukan nggak rela gitu. Gue, yang awalnya nggak bisa jauh-jauh dari keluarga, jadi merasa lebih dewasa dan siap untuk memiliki pengalaman lain berikutnya setelah ikutan acara ini, gladly.

   Tanggal 10 Oktober 2011, gue, Delia, dan Icha berangkat ke bandara bareng sama Christina dan Sudhakar, our Indian friend. Oh iya, gue belum cerita kalau Sudhakar is a very cute guy :D Dia sering digodain selama di sana haha. He's a very nice guy too. Ah, kalau bicara mengenai masalah orang-orang selama di sana, gue cuman punya 1 kata: BAIK! Bahkan ibu dan bapak Wayan serta anaknya, pengurus rumah Ibu Cat juga bikin gue nggak rela pisah karena mereka super duper baik juga ramah. 2 anjing di rumah Ibu Cat, Hammish dan Kalypso juga bikin gue sedih waktu harus kembali ke Jakarta karena selama gue di rumah Ibu Cat, mereka benar-benar manis dan nurut sama gue. Sangat disayangkan gue nggakbisa ketemu Ibu Cat, pemilik guesthouse kita karena beliau lagi di luar negeri. Dari cerita-cerita yang gue dapet mengenai Ibu Cat, gue sangat kagum sama Ibu Cat ini karena dia benar-benar perduli lingkungan serta makhluk hidup. I wish I could meet her. (Terimakasih banyak juga ya, bu, sudah meminjamkan rumahnya selama 8 hari sama kami :) Tuhan memberkati ibu)

   Pokoknya gue rasa gue meninggalkan hati gue di Ubud. Karena gue udah jatuh cinta; jatuh cinta sama semua yang gue alami selama di sana. Gue cuman berharap bisa ketemu lagi sama mereka semua suatu hari nanti :') Well, thank you very much for an amazing opportunity, UWRF 2011. I love and appreciate anything about art so much more than before. God bless Ubud and all people I know from this event. ***



p.s: Bunch of thanks for Miss Novenia, our "mommy" during this festival who is really nice to us. Thanks for everything you did for us during in Ubud. You're really a great lecturer! I'm sorry for any mistakes I did coincidentally or accidentally. God bless you :)

Jumat, 30 September 2011

Jomblo - Jombelo - Jombhlo - Jhombhlo - Jomblow - Whatever

   Jomblo is Single kalo kata orang-orang di negeri Paman Sam sana. Yaa, artinya (lagi) nggak punya pacar. Gitu. Sesimple itukah? Iya, sesederhana itu, sesingkat itu... Tapi, yang gue rasakan tidak sesederhana itu, loh!
   Hmm.. I've been jomblo since.... August 26th 2010-___- Yeah, udah setahun lebih huahuahuahuaua. Miris gak? Nggak juga, sih. Lebih banyak nggak berasa jomblonya ketimbang miris-miris sedih berasa gitu. Eh, sorry ya, gue bukannya nggak laku, loh! Gue emang nggak cantik, bukan tipe cewek-cewek kebanyakan, tapiiii tetep aja dong ada yang suka sama gue, pdkt sama gue, nembak gue. Pokoknya, masih ada kok yang pada pengen jadi pacar gue! Gue juga nggak tau kenapanya mereka pengen jadi pacar gue, tapiiii gue sih yakin gue charming :D Maksut gue, everyone is charming, tau. Everyone is stunning pokoknya :) GOD never makes mistake. HE made us just like HIS look hihi.
   Lanjut nih mengenai jomblo-jombloan. Entah kenapa yaa, hati gue itu belum benar-benar berlabuh sama seseorang. Hati gue emang bukan kapal, sih... Tapi penggunaan majas personifikasi itu bisa memperindah bahasa, loh. #eaa #promosijurusan Gue emang banyak milih, sih, karena berhubung gue udah, ehm, tua, jadi gue pikir lebih baik bersikap bijaklah dalam memilih :D Gue bukannya nggakbisa lagi jatuh cinta, karena kenyataannya gue pernah jatuh cinta lagi sama seseorang. Tapi karena berbagai hal na-ni-nu ba-bi-bu, gue merasa feeling gue ke pria itu hilang begitu aja... Seenggaknya orang itu sempet mengisi hari-hari gue meski kita berlabel "temenan", dan gue bahagia.

   Bagi gue, banyak loh, keuntungan jadi jomblo itu.
   1. Lo bisa bebas kemana kaki lo bawa lo melangkah
       Dulu gue sempet pacaran lama sama seseorang yang over protective. Gue mau ke sini nggak boleh. Gue mau ke situ nggak boleh. Gue mau nonton pertandingan bulutangkis di istora nggakboleh karena dia lagi sakit (apa hubungannya coba?) Gue lagi males sms-an dia marah. Gue ikut kegiatan apaaa gitu, dia marah, nggak dibolehin. Gue sampe lupa. Punya pacar apa punya satpam sih? Rasanya kok apa-apa dibatesin bgt. Padahal kan, pasir semakin digenggam semakin banyak keluarnya. I mean, pacaran over protective itu nggak banget, deh. Taruhan nih, suatu saat nanti yang sering diover protective-in sama pacarnya, mau secinta apapun dia, pasti bakal bosen & pengen putus. Sekarang gue jomblo, jadi kemana-mana enak. Mau belanja abis pulang kampus terus makan es krim cone strawberry sambil nyari ojeg, it's OK. Mau tidur siang abis pulang kampus tanpa mesti sms-in someone dulu bilang, "Aku udah di rumah, nih. Mau tidur boleh nggak?" juga nggak apa-apa. Gue mau melancong ke Bogor naik kereta kayak liburan kemaren juga nggak mesti dilarang sama pacar. Intinya, kemana kaki gue melangkah, di situ gue menemukan kebahagiaan. When I have a boyfriend later, I'll make sure that he will not give me a fence or rein! I wanna be free like a bird. I don't have wings, but I have feet, though!

   2. Bisa sesibukan apapun yang lo mau
       Iya, bisa sesibuk apapun yang gue mau, loh. Gue bisa ikut berbagai kegiatan kampus, bisa main game sampe leher pegel, bisa ngapain aja deh, yang penting sibuk!

   Gue nggak tau keuntungan jomblo apa lagi. Tapi, yang jelas, waktu gue jomblo, gue bisa ngeliat spion masa lalu gue dan mengambil hikmah sama gaya pacaran gue yang dulu; yang mengutamakan pacar bgt. Nggak punya pacar emang kadang nggak enak, karena waktu ada yang nanyain tentang siapa-pacar-lo-sekarang lo cuman bisa ngasih jawaban yang monoton: "jomblo". Nggak punya pacar juga kadang bikin sedih karena pengen punya tempat sandaran waktu lagi capek, kesel, kecewa, marah, sedih. Keluarga sama temen-temen sih ada, tapi kan beda posisi. Tapi buat gue, lebih baik jomblo daripada diiket yang bikin nggak bebas kemana-mana. Lebih baik jomblo daripada punya pacar asal-asalan, yang low quality. Lebih baik jomblo daripada punya pacar tapi kayak nggak punya pacar. Lebih baik jomblo daripada punya pacar ganteng, kaya, baik, tapi gue nggak cinta. Lebih baik jomblo, karena jomblo means masih bisa memilih. Lebih baik jomblo, karena... gue jomblo, dan tulisan ini gue persembahkan untuk para JOM-BLO!



***

Senin, 22 Agustus 2011

Boneka Hilang (Paul's story when he's 5 years old)


 Suatu hari ada orang menebang kayu dan ada suara kikiki dan orang itu takut ternyata itu suara boneka. Orang itu mengambil boneka itu lalu boneka itu dikembalikan pada pemilik bukunya yaitu Elda. ***

:DDDD this is a story which was created by Paul Gordon Tambunan, my only brother. He's now 8 years old and on 17th August he'll be 9. This is his first story created by himself when he was 5. I am so proud of my young brother because he wrote another stories :D It means that he loves writing too just like I do hihiw! I'll post them later!

Curhat Cerita Pendek (Cucepen)


Cerita 1

Hari jumat lalu di kampus (19-08-11), 10 menit sblm UAS SP, gue yg lg sibuk belajar *asek* disamperin 2 cewek. Ternyata mereka KOREAN. Mereka ngmong sm gue pake bahasa Indo & guess what? Seumur hidup, baru kali ini ada yg ngomong Indo sm gue tp gue cengo gk ngerti! huahua. Aksen Indo org Korea lucu abits, cyinn. Dan akhirnya seorg yg namanya Su Jin nanya, "do you speak English?" I said, "yes". Mereka sueneng bgt. Tapi terrnyata mereka mau nyebarin semacem agama sesat gityu deh. *Nah, kali ini gue yg  gak seneng". Untungnya sih iman gue masih good~ Pokoknya gue mah ber "uh-oh" & "and then" ajahh buat nanggepin mereka. Terus lucunya, mereka bilang, "you must be like K-pop! Most Indonesian nowadayas like K-pop so much!" & gue cmn jwb, "Ugh.. not really" wgwgwg :D I just wanna say, thank GOD & semoga itu cewek 2 daripada nyebarin yg aneh2 lbh baik bikin grup macem GAK GAK GAK KUAT aja deh. ok? -fin-

p.s: lupa lagi nih, nitip salam ke pemain bulutangkis korea yang imyut & manis, Lee Yong Dae. ugh..


Cerita 2

Pas pulang dari kampus, gue, si-anak-angkot, juga mengalami satu insiden yang membetekkan. Jadi ada satu mobil sebelah angkot yg gue juga gak gitu ngerti kenapa bikin supir angkot yg gue naikin betekk. Terus ada bapak-bapak penumpang angkot yang pake peci, baju koko, juga sarung tereak-tereak, "Cina pasti tuh yg bawa mobil! Cina ya! Kalau Cina potong aja lehernya!" Ieuw.. Rasisme sekali bapal-bapak freak inihh. Mana ternyata yg bawa mobil cewek pribumi bersama pacarnya, kok! Yeaa, mungkin mereka lg asyik pacaran sambil nyetir gitu kan. Tapi ini bapak-bapak freak udah dibilangin bukan orang Cina yg bawa mobilnya kok masih aja ngomel-ngomel gaje bilang, "Kalau Cina langsung aja tuh bawa ke polda! Gorok aja lehernya!"

Gue benci banget sama orang yang rasisme & gakbisa menghargai perbedaan. Coyyy, di dunia ini NGGAK ADA orang yang punya sidik jari sama. So, artinyaaaaa, semua orang diciptakan Tuhan berbeda-beda! Kalau mau yang sama melulu sihhh, jadi maho ajah sono. Kan sama tuh! Kalau masih mau sama yang beda gender yah, belajar deh menghargai perbedaan. Karena perbedaan itu indah. Ibarat selembar kertas putih yang mau dilukis pake crayon putih, jadinya opo toh? Nothing. Jadi, kalau mau membuat sesuatu keragaman yang indah, kertas putih itu mesti diwarna sama crayon warna-warni juga. So, buat apa sih rasisme? Kampungan, tau nggak? -fin-








FIN.

Juno Mau Dituker? Enak Aja!


Iyalah, enak aja! Bermula pada suatu pagi, beberapa minggu yang lalu. Waktu itu gue lagi di angkot (gak kewl bgt) dlm perjalanan menuju kampus untuk kuliah SP. Ada sms masuk tuh. Ternyata dari bokap. Inilah percakapannya:

Daddy: Hello Dear, ternyata di ktr Bapak banyak pecinta doggie. Coba deh Echa fikirin kita ganti anjing kita dengan yang lebih bagus, soalnya ada yg mau ngasih...

Gue: gakmau pak

Daddy: Nanti nyesel deh... ada yg mau ngasih jenis Akita githu.

Gue: ini aja udah mau nangis mikir juno diganti. gak, pak.

Daddy: He....he....animal just like things. Remember this, Non.

Gue: not really for me. echa yg ngurusn dia dr masih belum bisa jln. pokoknya mah kalau dia gak mati gak boleh diganti..

Daddy: Hmmmm........mmmm, Kl nunggu mati mah lame.....keburu gak ada lagi nyang bagoes.

Gue: msh banyak di toko hewan. pokoknya gakmau ah, pakkk

Daddy: Iya uwes....


   Jadi begitulah isi smsnya. Percakapan singkat sama bokap lewat sms itu sukses bikin gue galau dan menitikkan air mata di angkot, man! Sebel bgt gak sih :" Gue gakmau juno diganti! Apa-apaan.. Gue tuh sebelum memutuskan untuk memelihara anjing lagi setelah vakum selama 5 tahun krn pindah rumah, selalu minta punya anjing tapi gk dikasih. Alesan bokap nyokap krn takut gue nangis bombay tiap anjing gue mati. Ya elah, itu kan natural. I really love animals, especially dogs. Kalau jadi orang kaya gue pengen bgt pelihara singa, harimau, beruang, panda, burung nuri, sama anjing yg banyak! Huhu. Dulu pas masih kecil, waktu punya anjing pun, gue sering ngasih masuk anjing liar yg kehujanan ke dalam rumah. Gue jg ngasih makan mereka. Pokoknya gue suka bgt sama anjing! Akhirnya gue masa bodo sama izin dari bokap nyokap, dan nyari anak anjing kemana-mana, lalu mempersiapkan nama Juno, bahkan sebelum anak anjingnya ada. Lalu ketemu deh, temennya adek gue yg punya anjing mau beranak. Beginilah kisahnya.

   Waktu itu tanggal 22 Desember 2010 adek gue ngasih kabar kalau anjing temennya udah beranak, 3 ekor, jantan semua. Kata nyokap, ambil yg bungsu. Karena menurut mitos (yaelah mamak gue) anjing yg peranakan bagus yang bungsu. Nah, ternyata, seminggu kemudian gue mau ambil anak bungsu si Ciko (nama induknya Juno), majikannya mau rawat yg bungsu, krn gakpunya ekor, jadi menurut mitos (lagi) bakal pinter. Gue pun disuruh ambil yg sulung aja krn paling gendut. Setelah gue angkat si sulung, gue liat lah yang nomer 2, kok lebih unyu yah. Yaudah gue pun memutuskan untuk ngambil yg nomer 2. 2 minggu kemudian si nomer 2 yg gue beri nama Juno ini gue bawa pulang sm saudara gue naik mobil. Si little Juno di dalem kardus, deh. Dia rewel bawel, pengen keluar mulu dari kardus.

   Sampai di rumah, gue sayang bgt deh nih Juno. Berasa impian gue tercapai bgt! Haha~ Dan malam pertama Juno di rumah, jam 2 malem dia nangis-nangis di dalam kardusnya. Nyokap bangunin gue, suruh bikin susu untuk Juno. Akhirnya gue kasih susu deh tuh dengan mata berat bgt karena ngantuk. Tapi ternyata, dia cuman pengen bebas dari kardus. Udah keliatan tuh bandelnya-___- Hari demi hari berlalu (asyek), nyokap dan bokap mesenin, gue harus bener-bener ngerawat Juno. Kalau mau beli segala macem pake duit sendiri. Gue juga yg harus mandiin dia, ngasih makan dia. Ok, gue turutin. No problem dong! Bokap sama nyokap juga wanti-wanti gitu deh. Katanya ini doggie gak boleh pipis dan pup di garasi ataupun halaman rumah. And you know what? Juno is a smart dog! Dia selalu ngegonggong ngasih isyarat tiap dia mau pup. Dia gak pernah tuh pup di halaman atau garasi. Pasti dia selalu pup di luar hihi.

   Juno juga rakus beraaaat. Dia makan apaaaaaaaaa aja! Haha. Waktu masih umur beberapa bulan sih masih suka gue beliin daging kalengan buat anak anjing gitu. Tapi katanya makanan itu malah memicu penyakit cacingan. Dan ternyata, bener. Umur 6 bulan, Juno hampir mati karena penyakit parvo. Penyakit parvo itu penyakit yg paling sering nyerang anak anjing. Umumnya, kalau kena parvo, anak anjing cuman tahan 1 minggu, lalu mati. Gejalanya awalnya gakmau makan, lemes bgt, muntah-muntah. Lama-lama bisa pup dan muntah darah. Waktu Juno lemes bgt dan gakmau makan, gue langsung tau dia kena parvo. Juno yg super rakus gakmau makan bikin gue pusing 7 keliling. Sampe didatengin nyokap seorang dokter hewan buat ngobatin Juno, tetep aja Juno gak ada perubahan. Mana dia super duper galak pula karena perutnya sakit bgt. Akhirnya gue cuman bisa nangis aja dan mikir mungkin umur Juno bakal pendek. Gue udah pasrah bgt. Tapi akhirnya TUHAN ngasih jalan keluar :D Gue nyoba googling ttg obat alami buat parvo, dan ternyata obatnya air kelapa ijo. Malem-malem gue sama nyokap nyari air kelapa ijo dan ketemu!! Juno yg lagi galak bgt itu pun diiket di pager, terus air kelapa ijonya disuntikin ke mulutnya pake suntikan yg tanpa jarum. Dia ngamuk-ngamuk, but I didn't care. I just wanna see him get healthy again! Finally, malam itu juga setelah Juno dikasih air kelapa ijo dan susu putih, besok paginya dia udah mau makan!!!! :D Gue terharu bgt usaha gue itu berhasil! Juno sembuh total dan dia udah bisa jalan, bahkan sorenya dia bisa main dan makannya banyak. Semenjak itu, Juno sehat banget. Dia super lincah, makannya banyak bgt, sampe sekarang, yaitu umurnya 1 tahun 7 bulan. Meskipun suka sok galak sama orang yg takut sama dia, karena badannya guede, dia gak beneran galak. Dia gak pernah gigit orang. Dia cuman sok gertak doang. Dia suka mainin bola kaki, tapi kita gak dibolehin ngambil bolanya dari dia. Dia suka nyelonong lari ke dalam rumah kalau pintu rumah lagi dibuka, lalu duduk di atas sofa ruang keluarga. Dia suka main kejar-kejaran. Dia selalu ngekor kemana pun gue pergi. Dia selalu gonggong kayak nangis kalau anggota keluarga pulang atau mau pergi. Dan kalau ada siapapun yg manggil dia termasuk gue, dia pasti bakal langsung ke arah gue, gak ke yang lain :D
   Pokoknya Juno itu kesayangan gue bgt. Gue yg bener-bener besarin dia, ngurusin, dan ngerawat dia. 80% hidup Juno itu gue yg tanggung jawab. Untungnya, keluarga gue juga sayang bgt sama dia. Mama gue orang kedua yg deket sama Juno setelah gue. Walaupun Juno itu cuman mix breed, gue gak perduli. Buktinya, dari semua 2 saudara Juno dan induknya, badan Juno beda sendiri. Dia gak kate, gak pendek jelek gitu. Badan Juno gede, tinggi. Gue ngerasa berhasil jadi majikan yg baik hehe. Bokap sering mempermasalahkan Juno yg bukan jenis anjing ras, jadi bagi dia Juno anjing kampung. Padahal, temen-temen gue aja yg ngeliat Juno gak kepikiran Juno itu anjing kampung, looh. Dan sekarang, gak ada kata deh, Juno mau diganti sama anjing jenis Pitbull or Akita or Siberian Husky or Golden Retriever, para jenis anjing kesukaan gue. Bagi gue Juno spesial bgt. Gue gak mungkin ngebiarin dia dikasih orang. Yg ada dia dipotong lagi! NO WAY. I don't eat dogs! Ataupun dirawat keluarga lain, gue jg gakmau. Bisa stress dia, terus mati karena sedih. Gak ada kematian yg lebih menyakitkan daripada mati karena sedih kan? Huhu. Pokoknya gue bakal rawat dan pelihara Juno, yg gak pernah gigitin koran baru, yg suka bgt masang tampang melas minta makanan, yg suka bgt manja-manja, yg songong gakmau nyalam kecuali kalau nyokap yg minta (dia takut sama nyokap krn nyokap tegas sama dia hahaha) sampe dia udah tua bgt. Untungnya sekarang bokap lagi belajar ngerti, kalau gue gak akan pernah mau Juno diganti-ganti. Mungkin bokap takut kali ya, kalau suatu hari Juno mati gue bakal nangis parah berhari-hari. Karena dia sering pesenin untuk jangan terlalu sayang sama binatang peliharaan, atau apapun, karena suatu hari pasti pergi juga. Yah, gue kan emang cengeng bgt ya. Apalagi kalau udah sayang bgt sama sesuatu. Pokoknya sih, sekarang ya sekarang deh. Whatever happpens, I love my doggie Juno and he cannot be replaced by any kinds of  dogs! Okeokeeee ;)



Kamis, 04 Agustus 2011

Kakak (Short Story)

   Senja itu terasa lebih dingin. Langit bukanlah berwarna oranye yang indah, melainkan abu-abu gelap. Aku menapakkan kaki sembari bersyukur telah tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan selamat, meski cuaca tidak terlalu bersahabat. Hari ini aku kembali ke Jakarta, setelah 5 tahun lamanya menetap di New York. Aku begitu rindu kota kelahiranku ini. Kata orang, rumput tetangga lebih hijau. Namun hal itu tidak berlaku bagiku. Kehidupanku selama 5 tahun di New York memang cukup baik. Aku memiliki pekerjaan yang tetap dan menghasilkan banyak uang. Kehidupan sosialku juga sangat baik. Kota New York merupakan kota yang glamor. Di sana selain bekerja, aku juga sering bersenang-senang. Siang bekerja, malam berpesta. Istilahnya, "work hard play hard". Tetapi jauh dari hingar-bingar kehidupanku yang menyenangkan di New York, aku selalu ingin kembali ke Jakarta; kembali menjumpai kakak.

   Kakakku adalah sosok yang aku idolakan. Ia berusia 4 tahun lebih tua dibanding ku. Ia memiliki kulit cerah serta mata cokelat yang cantik seperti ibu. Sedangkan aku, lebih mirip ayahku. Kami berdua berkulit coklat dan berlesung pipit. Warna rambut ku dan kakak sama-sama hitam. Namun aku berambut lurus dan tebal, sedangkan kakak memiliki rambut ikal. Bentuk tubuh kakak tidak terlalu semampai seperti aku. Ia agak sedikit gemuk, sedangkan aku memiliki tubuh semampai dan bagus. Walaupun orang-orang berkata aku merupakan seorang gadis cantik, aku lebih ingin menjadi seperti kakak. Ia memiliki wajah yang selalu tersenyum dan ia selalu membawa keceriaan dimana pun ia berada.
   Nasib aku dan kakak tidak terlalu baik. Saat kakak berusia 15 tahun dan aku berusia 11 tahun, kedua orangtua kami mengalami kecelakaan yang merengut nyawa mereka. Aku dan kakak pun dirawat oleh paman dan bibi kami. Kehidupan kami bersama mereka tidak terlalu baik. Mereka seringkali mengacuhkan kami. Bahkan paman pernah hampir berbuat yang tidak senonoh kepadaku ketika ia sedang mabuk. Ya, paman merupakan seorang pemabuk. Saat aku ketakutan hampir dijamah paman, kakak langsung menghampiri kami. Ia menjadi seorang pahlawan untukku. Kakak menggengam erat tanganku, kemudian membentak paman agar menjauhi ku. Kejadian itu sangat membuat aku makin menyayangi kakak. Ia merupakan pelindungku, juga sahabatku. Kakak juga merupakan seorang pribadi yang mendukungku habis-habisan untuk mendapatkan beasiswa untuk berkuliah, sama sepertinya. Menurutnya, cara itu satu-satunya agar kami berdua bisa berkuliah. Paman dan bibi kami tak mau menyekolahkan kami sampai ke bangku kuliah. Berkali-kali mereka tekankan bahwa menampung kami berdua saja sudah merupakan keuntungan besar bagi kami.

   Aku dan kakak menyelesaikan kuliah kami berdua dengan baik di sebuah universitas di Adelaide, Australia. Kami benar-benar mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Aku mengambil jurusan akuntansi, sedangkan kakak mengambil jurusan psikologi. Kami tumbuh menjadi pribadi yang sukses dan menyenangkan. Selepas kuliah, kakak melepas masa lajangnya dengan dinikahi oleh pria yang telah dipacarinya selama setahun. Aku sangat bahagia melihat kakak bahagia dengan suaminya. Perjalanan cintaku sendiri tidak cukup mulus. Banyak pria yang hanya singgah di hidupku. Mereka menyukai aku karena parasku, tak lebih. Aku hampir tidak pernah merasakan cinta yang sebenarnya. Sekalinya aku jatuh cinta, pria itu meninggalkan aku. Aku terlarut dalam sakitnya patah hati selama berbulan-bulan. Kepribadianku menjadi lebih keras, namun rapuh. Di saat kehidupanku sedang goyah, pekerjaanku menjadi terbengkalai. Di saat itu pula, kakak lagi-lagi menjadi pahlawanku. Ia mencoba untuk membantuku dengan menawarkan untuk ikut tinggal bersama ia dan suaminya, di saat umur pernikahan kakak baru memasuki tahun ketiga. Ia ingin memastikan aku tidak pernah sendiri dalam melewati berbagai kesusahan di hidupku. Awalnya aku keberatan karena tidak ingin merepotkan kakak, tetapi kakak memaksa dan aku tahu, di saat-saat berat seperti itu, aku benar-benar ingin kakak ada di sampingku.

   7 bulan tinggal bersama kakak dan suaminya membuat kehidupanku kembali tertata dengan baik. Setengahnya pengaruh dari kasih sayang kakak yang selalu setia untukku, namun sebenarnya sebagian besar, karena aku jatuh cinta kepada Raymond, suami kakak.
   Raymond merupakan seorang pria yang baik. Awalnya ia memperlakukan aku sebagai adiknya. Ia bersikap perhatian, sama seperti kakak. Namun entah kenapa, lama-kelamaan tumbuh cinta di antara kami berdua. Aku jatuh cinta kepada Raymond, dan Raymond pun jatuh cinta kepadaku. Perlakuan Raymond mulai istimewa kepadaku, dan aku menikmatinya. Aku tahu aku salah, tetapi aku benar-benar jatuh cinta kepada Raymond. Sampai suatu hari kakak memergoki kami berciuman di dapur, di saat kami pikir kakak masih mandi. Kakak sangat marah. Aku tahu hatinya hancur. Belum pernah ku lihat kakak sangat kecewa kepadaku. Ia memaki kami, tersungkur dan menangis. Hatiku rasanya juga terkoyak melihatnya demikian. Raymond tidak melakukan apa-apa. Sebelum kakak mengusir aku dan Raymond, Raymond sudah lebih dulu mengajak aku mengemasi barang-barang kami dan pergi meninggalkan kakak. Betapa berdosanya aku ketika aku menyadari bahwa di malam itu, aku merasa bahagia karena ternyata Raymond lebih mencintai aku dibanding kakak. Aku memang menyayangi kakak, namun hari itu aku buta. Aku dibutakan oleh cinta terlarangku kepada Raymond. Aku dan Raymond pun pergi meninggalkan kakak. Perceraian kakak dan Raymond berlangsung segera setelah peristiwa malam itu, kemudian aku dan Raymond memutuskan untuk meninggalkan Indonesia untuk menikah dan menetap di New York.

   Ku pikir cintaku yang kuat terhadap Raymond merupakan kisah indah yang bisa menguatkan aku untuk melupakan rasa bersalahku terhadap kakak. Tetapi, aku salah. Setiap kali memandang mata Raymond, aku merasa berdosa. Aku tahu kakak begitu mencintai dan mempercayai aku dan Raymond, namun alangkah jahatnya aku dan Raymond, telah merengut kebahagiaan kakak secara paksa dan merusak hidupnya.
   Umur pernikahan aku dan Raymond ternyata lebih singkat dibanding pernikahan kakak dengannya. Hanya 1,5 tahun aku mampu menjaga biduk pernikahanku dengan Raymond. Kami sering diliputi pertengkaran, sampai akhirnya kami memutuskan untuk bercerai. Seusai bercerai perasaan bersalah terhadap kakak semakin menyakitiku. Aku tahu aku sudah sangat berdosa dengan menyakiti hati wanita yang sangat menyayangi dan melindungku dari kecil itu; tetapi aku sangat merindukan kakak.
   Bertahun-tahun aku bergulat dengan pikiranku sendiri; memutuskan untuk menghubungi kakak lagi atau tidak. Aku rindu sekali pada kakak, dan ingin sekali mendengar suaranya serta menemuinya. Aku ingin sekali kakak memaafkan aku. Aku sudi bersimpuh di kaki kakak untuk mendapatkan maafnya. Tetapi aku merupakan seorang pengecut. Aku terlalu takut kakak tak akan pernah mau memaafkan aku. Terlebih pernah suatu kali aku yang memberanikan diri menelefon kakak, namun setelah mengetahui bahwa si penelefon adalah aku, kakak langsung mematikan telefonnya. Aku tahu mengapa kakak berlaku demikian. Aku sudah meremukkan kehidupannya, melukainya sangat dalam. Tidak heran jika kakak tak mau memaafkanku. Tapi aku, si tidak tahu terima kasih ini, ingin sekali suatu hari kakak akan membukakan pintu maafnya untukku.

   Cukup sudah selama 5 tahun aku berpisah dari kakak. Aku bertekad untuk kembali ke Indonesia untuk menemui kakak. Aku akan berjuang untuk mendapatkan maafnya. Dengan menguatkan diri, aku rencanakan kepulanganku ke Jakarta. Setelah tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku pun memutuskan untuk segera menemui kakak. Tak ku pedulikan rasa lelah yang menyengat akibat perjalanan belasan jam untuk tiba di Jakarta. Aku hanya ingin bertemu kakak.
 
   Aku bersyukur kakak belum pindah dari rumahnya yang sebelumnya sehingga aku masih tidak perlu lagi mencari-cari kakak. Sampai di rumah kakak, aku perhatikan beberapa tetangga yang aku kenali memasang mata tajam terhadapku. Ada hinaan yang tersirat dari pandangan mata mereka terhadapku. Aku berusaha tersenyum pada mereka, namun mereka tidak membalas. Aku memaklumi sikap ketus mereka terhadapku. Manusia seperti apa yang tega menusuk kakak kandungnya sendiri lalu merebut suaminya? Aku memang terkutuk.
   Aku merasakan tanganku basah karena gugup seusai memencet bel rumah kakak dua kali. Jantungku berdegup tak karuan. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dadaku. Akankan kakak menerimaku untuk masuk ke rumahnya? Masih marahkah kakak padaku? Sudikah kakak memaafkan aku? Rindukah ia padaku?
   Perlahan pintu rumah kakak terbuka. Aku melihat wajah kakak saat pintu itu terbuka. Kakak bertubuh kurus sekarang. Matanya sayu, namun aku tetap melihat wajahnya terpancar cantik. Kakak terkejut melihat siapa yang ada di balik pintu rumahnya. Ia hampir menutup pintu rumah, namun aku segera menahannya.
   "Kak, aku mohon biarkan aku masuk", ujarku sambil menahan kakak menutup pintunya. Mataku segera basah. Kakak terdiam sejenak.
   "Aku ingin bicara kak, aku mohon biarkan aku masuk ke rumahmu..." aku memelas. Air mataku mulai mengalir. Kakak menyadari tangisanku dan membiarkan tanganku mendorong pintu hingga terbuka. Ia menangis. Aku merasakan sakit yang amat dalam melihat air matanya.
   "Aku minta maaf, kak", ujarku lirih, tenggelam dalam tangisan. Kakak masih mematung, namun air matanya mengalir deras membasahi lehernya. Aku pun berlutut.
   "Aku tahu aku sudah sangat menyakitimu, kak. Aku tidak tahu diri, aku benar-benar tidak tahu terima kasih. Maafkan aku yang sudah buta, kak. Aku mohon maafkan aku, kak. Aku rindu kakak. Aku mohon maafkan aku, kak..." aku semakin terisak. "Aku hanya minta kakak untuk memaafkan aku. Aku rela kakak menamparku berkali-kali karena kakak tidak sempat melakukan itu, kak. Aku tidak akan peduli sakitnya tamparanmu, kak. Jika kau tidak ingin melihatku lagi setelah ini aku juga akan pergi kak, tapi aku mohon maafkan aku, dan biarkan aku memeluk kakak untuk yang terakhir, karena aku rindu sekali padamu, kak", lanjutku dengan terus menangis.
   Keajaiban terjadi. Kakak membantuku berdiri dan kemudian memelukku. Aku kaget namun segera membalas pelukannya dengan sangat erat. Kami berdua tenggelam dalam tangisan kami.
   "Aku juga rindu padamu, Carlie. Aku memaafkanmu. Tolong, jangan pernah pergi lagi", ujar kakak. Aku merasakan keteduhan yang amat sangat. Hati kakak pasti sangat besar untuk menerima permintaan maaf dari seorang adik yang tidak tahu diri ini. Aku bersyukur memiliki kakak seperti dia. Aku akan melakukan berbagai cara untuk mengembalikan dunianya yang indah. Aku ingin menyaksikan kakak bahagia sampai akhir hidupnya. Terima kasih sudah memafkaanku, kak.***





by: Esra Masniari Tambunan