Kamis, 19 September 2013

It's always sweet and good to go back to where your ancestors came from....... ♥ (Part 2)

  Ini cerita pengalaman gue pulang kampung bagian ke 2. Setelah sebelumnya gue menceritakan gimana indah dan damainya kampung halaman bokap yg super dingin, kali ini gue akan menceritakan pengalaman gue pulang kampung ke kampung halaman nyokap, yaitu Garoga, Samosir; dan masih di kawasan pulau Sumatera Utara tercinta.
   Tahun 2012 lalu, gue beserta keluarga pulang kampung 3 kali ke Sumut dalam setahun. Dan alasannya sudah gue ceritakan di part 1 tulisan gue mengenai pulang kampung ini. Untuk ke Garoga nya sendiri, seinget gue cuman 2x di tahun itu. Kali pertama dan kali kedua. Kali pertama gue hanya sama nyokap dan adek bungsu gue. Saat itu, kami masih bisa seneng-seneng dan menikmati kunjungan kami ke kampung sebagai liburan sekaligus.
Ini Danau Toba hasil foto gue (tanpa editan)
   Hampir sama seperti Nagasaribu, kampung bokap, Garoga juga indah banget serta peaceful. Wangi kepulan asap pagi hari khas kampung, langit biru nan cerah, serta pepohonan hijau dimana-mana. Rumah almarhum opung gue sendiri dikelilingi bukit dan pepohonan. Bahkan ada pohon duren segala! Betapa cinta gue sama kedua kampung gue! :) Bedanya, di Garoga nggak sedingin di Nagasaribu. Paling hanya di malam hari, dan itu pun nggak seberapa. Hal ini dikarenakan Garoga sendiri letaknya di pulau Samosir, yg terkenal dengan lokasi Danau Toba; yaitu danau terluas di Indonesia.



Juga Danau Toba hasil bidikan gue (tanpa editan)

   Di Garoga sendiri sudah ada beberapa lokasi wisata karena Pulau Samosir memang salah satu lokasi pariwisata di Indonesia. Tapi, sayang banget, Danau Toba kalau gue bisa bilang, dilupakan oleh pemerintah. Menurut nyokap, Danau Toba sekarang sepi banget, beda sama dulu yg rame sama wisatawan. Memang, sih, gue lihatnya aja sedih. Banyak lokasi-lokasi turis tapi sepi sekali. Di Indonesia sendiri kan banyak sekali tempat wisata karena alamnya Indonesia itu juara. Sayang aja dilupakan pemerintah sehingga nggak dikembangkan. Sedih...

   

Gue dan Paul, adek bungsu gue di salah satu tempat lokasi wisata. Namanya "Objek Wisata Budaya Batu Kursi Raja Siallagan"

Ulos, kain khas batak, yg dipamerkan di "Objek Wisata Budaya Batu Kursi Raja Siallagan"


   Gue cinta banget sama kampung halaman nyokap. Suasananya teduh banget, alamnya masih terjaga rapi. Sawah juga ada dimana-mana dan mereka terlihat cantik. Pokoknya kalau pengen menjauh dari hiruk pikuk kota, gue rasa kedua kampung halaman gue adalah jawabannya. Untuk mencapai Garoga sendiri diperlukan waktu kira-kira 5 jam dari Medan. Ohya, jangan berharap ada mall atau bioskop di Nagasaribu atau Garoga ya, karena hiburan yg disajikan kedua kampung cantik ini hiburan alam :D

Sawah di sekitar kampung gue di Garoga. MANTAP!

Entahlah. Pemandangan bukit berselimut awan di langit biru di belakang gereja dengan salib suci mana lagi yg kamu dustakan? Priceless. 

   Ah! Jadi kangen banget sama kampung halaman. Menurut gue aneh sekali orang-orang yg nggak rindu sama kampung halamannya sendiri. Apalagi sampai lupa (atau bahkan anehnya, malu) untuk bisa berbicara bahasa daerahnya sendiri. Buat gue sih, itu konyol banget. Sama aja kayak menentang diri sendiri.
   Emang, sih, biaya pulang kampung itu mahal. Bahkan kadang-kadang lebih mahal daripada biaya jalan-jalan ke luar negeri. Sayang sekali, ya? Gue beruntung dan bersyukur karena biaya ini dibiayai oleh kedua orangtua gue. Thanks to teach me how to love myself and where I come from, mom and dad :)


HORAS MAJUA-JUA! LAS DO ROHAKKU TU HO, ALE HUTA KI NA BAGAKKI! :D






Esra Masniari Tambunan



p.s:
2 of my loved ones" Mom and Paul, my baby brother in a ferry, a ship that brought us to cross Danau Toba.

Bucket List

   If people ask me, "What's in your bucket list?" then there'll be so many things cross my mind. They're jumping inside my head and I'm excited as hell to talk about it. So, here I am, about to write my bucket list!

   1. Travel to Europe. It's a definite! I've always loved Europe and its beautiful old buildings. Also, Europe's got the best chocolate in the world (IMHO). My target is, in 5 years I have to make it happen!
   2. Travel to Thailand. Well, well, I've prepared the plan to visit this ethical country in November!! Yaay! Hope everything will go well. Amen to that!
   3. Travel to Malaysia-Singapore, Vietnam-Kamboja, Lombok, Flores, and sooo many places! OMGGG I guess I'll fulfill my bucket list by travelling ideas :'/ Ok, let's get focus. The thing is, I want to travel a lot in the entire of my life! So many places I'm dying to visit and let's hope God will help me to objectify my dreams! *shouting a big AMEN*
   4. Despite those travel plans, I also want to pet a Great Dane! It's a kind of a dog, and I love that race so much because usually they're big and tall. Well, I'm an animals lover, esp dogs! I have a dog which I really love now, btw.
 
This is a picture of a Great which I got from google! Look how dashing he is!

   5. I want to buy shoes from iwearup! Haha. It's a simple one. I love their collections, but still I'm not able to spend my money to buy one. I've been spending my money for travelling and these shoes, even though it's not pricey, still cannot be purchased by me. Pity me! Lol. Btw my favorite (which are not sold out yet) are these two:


They name it "Stella floral black"


This is "Rachel Rainbow"

   6. I hope I can bring my parents to Jerusalem hehe. I want to draw their smile because they can visit that holy place. I'm sure I'll make it happen! :)
   7. At least, I want to make Rp 30.000.000,- per month! That would be amazing if my salary is as big as that amount! I can travel easily and go shopping for shoes even conviniently! Amen to that :3
   8. Have a room for my unique shoes collections. I would love it to death for sure! Let's make it one dayyyy!
   9. Watch FUN in a live concert! How I loooove Nate Ruess' voice and definitely will have to see him sing in front of my eyes on a live stage! His voice is so funny yet great! Certainly it's worth watching!
 10. Finish my college! Gaaah, I've been waiting for this since I signed up for college lol. And now I'm still striving for it. So, wish me luck!
 11. Sing in front of many people!! Yeah, singing is the best thing to do in this whole universe! So, I've always wanted to let the world know that I could sing :P Well, there were some time ago that I got chances to sing on a stage in front of many people and most of those time, I did it in church. I was really enjoying it and hopefully I'm still able to do it till the rest of my life.
 12. Have an exceptional honeymoon in Bora Bora, Hawaii! It'd be amazinggg if I could spend some relaxing time with my loved one in that super pretty place! I've been interested in Bora Bora since I watched a movie titled "Couples Retreat" and I've been also in love with Bora Bora! Plus, I watched an episode of "Bachelorette", one of a cheesy TV show *lol*, which took place in Bora Bora. And now I'm falling in love even more to that awesome place. You can watch the link of "Couples Retreat" trailer in here, and "Bachelorette" episode in here.
 13. Publish my writing!!! I've been being in love with writing since I was very young. I like writing about everything. Travelling, articles, short stories, poems, well, I mean everything! Writing for me is my daily bread. Sometimes, it's hard for me to keep writing due to my activities. But, I'm starting to write again. I can't really leave writing since writing is a part of my life. So, I really hope that one day I have a chance to publish a book! Amen to that^^
 14. Have 5 children with my spouse: 3 boys and 2 girls. Lovely, isn't it? I've always wanted to have a big family because I've seen my big Tambunan family's solidarity and I'm impressed by us. People say I might be too much of wanting 5 children in the future, but I doubtless don't want to change my mind about it :P



   Whoaa! I have 14 lists that I put on my bucket list! Haha not too many, but they're amazing, aren't they? Wish I could make it all happen! AMEN TO THAT!!!!!! :D

   So, what's yours? ;)




Esra Masniari Tambunan

Selasa, 17 September 2013

It's Always Sweet and Good to Go Back To Where Your Ancestors Came From....... ♥ (Part 1)

   My ancestors were from North Sumatera, Indonesia. Bokap bermarga Tambunan, sedangkan nyokap itu boru Rumahorbo. Intinya, gue adalah seorang Batak asli and I'm so proud of that. Kampung halaman gue di Nagasaribu, Balige, yg merupakan asal tempat tinggal bokap. Sedangkan kampung halaman gue dari nyokap itu di Samosir.
I swear, this Sibongbong river is top clear and fresh!!
   Gue sangat bangga akan Nagasaribu. Udaranya masih sangat bersih, dan karena tempatnya di dataran tinggi, suhunya dingin banget. Gue selalu pake jaket tebel, kaos kaki, serta scarf selama di sana. Itu pun gue masih menderita kedinginan akut, bahkan sampai sesek nafas; hal yg gue rasakan jika gue berada di tempat yg udaranya terlalu dingin. Tapi, hal itu nggak mengurangi rasa sayang gue sama Nagasaribu. Air sungainya masih sangat sangat jernih. Pohon ada dimana-mana, bau asap tungku masih kental di pagi hari. Belum terjamah polusi, dan langitnya cantik dan biru sekali. Untuk mencapai Nagasaribu, dibutuhkan waktu 8 jam melewati jalur darat dari kota Medan.
Kata bapak, ini namanya deretan pohon Kaliptus. Ini foto yg gue ambil sewaktu masih on the way menuju Nagasaribu,
Sawah opung gue diliat dari atas

See? Green and blue; colors of life.

   Tahun 2012 lalu, gue 3 kali pulang kampung. Yg pertama, dikarenakan kedua opung gue sakit, dan Uda (sebutan "om" dalam  bahasa batak) gue mau menikah. Yg kedua, dikarenakan opung boru gue meninggal. Dan yg ketiga, dikarenakan opung doli gue meninggal. Jarak meninggal kedua opung gue hanya 4 bulan. Yg gue tahu, bahkan kematian nggak bisa misahin mereka lama-lama, karena mereka itu pasangan yg sangat manis. Karena mereka, gue percaya cinta sejati. Bahkan mereka menginspirasi gue untuk membuat sebuah cerpen berjudul "Yang Tidak Memiliki Usia". Gee.. How I miss my lovely grandparents now and almost everyday.... :")
   Gue gaktau kapan gue bisa pulang kampung ke Nagasaribu lagi. Rumah kedua opung tersayang gue udah kosong, nggak ada yg nempatin. Gue udah nggak bisa menikmati enaknya makanan khas batak, susu kerbau, bikinan opung boru gue yg super baik hati lagi. Udah nggak bisa denger suara merdunya lagi, udah nggak bisa cerita gimana sekolah dan kerja gue lagi ke opung doli gue. Gue juga udah nggak bisa diceritain tentang kerbau dan anjing-anjing opung gue lagi, dan nggak bisa denger suara ketawa mereka yg menenangkan hati lagi. Gila, I miss them like crazy... Wait, I just can't hold my tears.





   Ok, Nagasaribu, gue janji bakal mengunjungi elo lagi suatu hari nanti. I love you, my hometown. Wait for me to go back!





Esra Masniari Tambunan

The Cheapest yet The Funniest Short Holiday Ever

   What's in your head reading the title above? It's definitely Bogor!!!! Yippie!
   5 bulan lalu, gue punya sebuah ide untuk mengajak adek gue serta beberapa temen gue untuk liburan pendek, alias cuman sehari. Gue pengen ngebolang, serta wisata kuliner, juga seru-seruan. Yg ada di otak gue, langsung Bogor. Tahun 2012 lalu gue mengunjungi Bogor, kisahnya ada di link ini. Pada waktu itu, gue mengunjungi Air Terjun Curug Nangka yang cantik jelita. Nah, 5 bulan lalu, gue, Esther (adek gue), Kiki, Mastah, Edho, dan Meilyn mengunjungi Bogor untuk menyambangi Kebun Raya Bogor dan cafe bernama Death by Chocolate. Tujuannya 2: hunting foto dan wisata kuliner! Pesen gue cuman 1 untuk temen-temen gue: "Semua harus bawa duit dengan nominal dengan sebesar Rp 100.000,-. Beberapa temen gue agak worried, takut kalau duitnya kurang. Gue pun pastiin ke mereka, kalau nggak akan deh, kurang. And yes, their concern didn't happen.
   Kami pergi naik kereta, pulang juga naik kereta. Sewaktu di Kebun Raya Bogor, hujan turun, lalu kami basah kuyup. Ujung-ujungnya ya kering, karena seharian di luar haha. Hunting foto di KRB lumayan ok, karena hasil foto yg gue dapet memuaskan.

Salah satu foto orang pacaran yg gue ambil lol.
Banana Euphoria Chocolate, my love
    Di cafe Death by Chocolate, kami mesen 1 dish untuk bareng-bareng, dan namanya yaa nama restaurant itu sendiri: Death by Chocolate. Enak, kok. Tempatnya juga recommended. Tapi, yg paling gue suka itu Banana Euphoria Chocolate. Itu minuman coklat hangat yg dicampur sama rasa pisang dan cinnamon. Enak bangeeet. Ngangenin!
Death by Chocolate. Bentuknya unik.

   Selama perjalanan, gue dan temen-temen nggak henti-hentinya bercanda. It was epic crazy and fun! Dan karena kita pulang udah malem, kereta itu sepi banget. Kita pun sempet-sempetin bercanda sama masinis, bahkan juga foto-foto nyeleneh di gerbong. Urat malu udah pada putus, yg penting having fun! Haha.
Ini gue yang moto. Gila banget, kan, gayanya tuh cewek-cewek?

   Ok, sekian cerita gue mengenai Bogor bersama kawan-kawan wuedan yg nyenengin. Thanks for the cazy trip, girls!!






Esra Masniari Tambunan


Jumat, 27 Juli 2012

Yang Tidak Memiliki Usia

   "Ibu ingin dimakamkan di tempat kami pertama kali bertemu, nak", ujar ayahku, seorang lelaki tampan yang tua dan lelah. Keriput di wajahnya menunjukkan bahwa ia telah melewati tahun-tahun di hidupnya dengan menakjubkan. Ototnya yang kini rapuh masih mampu menunjukkan bahwa ia menapaki hidup melalui kerja kerasnya sebagai petani bertahun-tahun lalu. Aku menoleh ayahku dan tersenyum.
   "Ya, ayah. Teluk Kiluan, bukan?" tanyaku sambil mengelus telapak tangannya yang kasar.
   "Iya. Segera setelah proses kremasi selesai, mari kita sebar abu ibumu di sana, ya", jawab ayah kemudian memejamkan matanya, tertidur.

   Aku belum pernah menyaksikan kisah cinta luar biasa seperti yang ayah dan ibuku lalui. Maksudku, tentu saja sebagai penggemar buku aku sudah membaca ratusan kisah-kisah cinta yang menakjubkan, tetapi aku belum pernah menyaksikan kisah cinta yang indah secara langsung, kecuali kisah cinta kedua orangtuaku.
   Berawal dari kisah cinta yang layaknya percintaan Romeo dan Juliet, kedua orangtuaku menjalin cinta tanpa disetujui oleh orangtua mereka masing-masing. Seperti cerita-cerita cinta jaman dahulu, ayahku pun juga mengalami yang namanya dijodohkan. Tera, nama perempuan itu. Dia cantik sekali, menurut cerita ayahku. Banyak pria di desanya yang mengincar Tera, namun kedua orangtuanya telah bersikukuh menjodohkan ia kepada Hans, ayahku. Meski begitu, ibuku telah memikat hati ayahku terlebih dahulu. Di Teluk Kiluan, Lampung, mereka bertemu. Saat itu ayahku sedang berjalan-jalan dengan teman-teman sekampungnya dan tak sengaja bertemu dengan ibuku yang memang tinggal di Lampung. Dengan kulitnya yang hitam manis dan matanya yang indah, ibuku mendapatkan hati ayahku dan ayahku tak mampu berpaling kepada kecantikan Tera. Singkat cerita, ayah dan ibuku menikah setelah memperjuangkan cinta mereka.
   Pernikahan ayah dan ibuku nampaknya tidak lepas dari campur tangan kedua orangtua ayahku, yaitu kakek dan nenekku, yang masih tidak terima ayah menikahi ibuku. Ibuku sering sekali menangis akibat dikritik habis-habisan oleh nenekku, juga diperlukan kasar oleh kakak-kakak ayahku. Namun dengan dengan segenap cintanya pada ibuku, ayahku selalu membelanya. Meski di saat-saat sulit seperti itu aku dan kelima adikku belum lahir, namun aku yakin bahwa ayahku tidak akan pernah membiarkan ibuku menghadapi mertua dan kakak-kakak ayahku menyiksanya seorang diri. Aku tahu ayah. Dia sangat mencintai ibuku.

   Ayahku bukanlah seorang yang romantis. Ia bukan tipe seorang pria yang kerap memberikan kejutan-kejutan yang romantis untuk ibuku atau sekedar mengecup pipi ibuku di pagi hari sebelum bertani ke ladang. Ia hanya seorang pria biasa yang mencintai ibuku dengan sederhana. Ia selalu pulang tepat waktu untuk makan malam bersama keluarganya setiap hari. Ia tidak pernah melirik wanita lain di dalam hidupnya selain ibuku. Meski kadang aku menyadari bahwa ayahku selalu bertindak tegas kepada ibuku, aku tahu bahwa ayahku sangat mencintai ibuku dan akan melakukan apa saja untuk melindunginya.
   Cinta ibu kepada ayahku juga tidak akan pernah aku ragukan. Ia tahu bahwa ayah merupakan tipe pria tegas yang menyukai istrinya sebagai seorang ibu rumah tangga sejati. Ia mengharuskan ibuku memasak tiap hari untuk keluarganya dan ia melakukannya dengan baik. Rumah kami selalu rapi setiap harinya dan kami, anak-anaknya berhasil digembleng oleh ibu kami yang sangat tegas dalam mendidik. Meski kami berasal dari daerah yang sangat terpencil, namun kami berenam berhasil menamatkan pendidikan kami hingga bangku SMA dan kemudian menjalani hidup di Jakarta dengan berpenghasilan sangat baik.
   Meski keenam anaknya memilih untuk merantau ke Jakarta dan menetap di kota metropolitan itu, kedua orangtuaku bersikeras untuk tetap tinggal di kampung halaman tercinta mereka, di Bengkulu sana. Sesekali mereka datang berkunjung ke Jakarta dan menetap selama beberapa minggu atau bulan bersama kami para anak dan cucunya. Hingga suatu kali ibu meneleponku dan kali itu nada suaranya berbeda. Ia mengatakan bahwa ayahku pingsan saat sedang menonton bola di tv. Keesokan harinya, ayah dan ibuku terbang ke Jakarta. Ayahku menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan di rumah sakit dan kemudian kami mengetahui bahwa di otaknya terdapat sebuah tumor ganas. Kami pun segera tahu bahwa hidup ayah tidak lama lagi.

   Awalnya kami menyembunyikan keadaan ayah yang sebenarnya kepada ibu dan juga kepada ayahku. Aku takut mereka akan sangat panik dan kehilangan semangat hidup. Namun keputusanku berubah ketika suatu pagi aku mendengar ibu berdoa di samping ayah. Nampaknya beliau tahu bahwa ayahku sedang sakit keras. Usai berdoa ayahku mengecup kening ibu dan mereka berpelukan. Saat itu juga aku menghambur ke pelukan mereka kemudian dengan air mata yang menetes aku mengatakan agar mereka selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk apapun.
   Ibuku sangat telaten mengurus ayahku yang sedang sakit itu. Namun meski ayah sedang sakit, ia tetap tak lupa memperhatikan ibu. Ayahku mengambilkan minum untuk ibu ketika mereka sedang makan dengan tangan tuanya yang gemetar. Ia juga mengolesi minyak angin di leher ibuku ketika menyadari bahwa ibu sedang tidak enak badan ketika masuk angin. Aku menyaksikan peristiwa-peristiwa indah itu dengan bersyukur. Terlintas di kepalaku perlakuan-perlakuan mesra ayah dan ibuku di usia senja mereka. Ketika mereka bergandengan tangan saat aku mengajak mereka berjalan-jalan menyusuri mall, saat ibuku mengecup pipi ayahku di ulangtahunnya yang ke 65, ketika ibuku dengan setia menjawab setiap panggilan masuk di telepon genggam ayahku karena ayahku sedang terbaring lemah akibat tumor itu, dan semua hal-hal kecil lainnya yang membuatku terharu. Cinta mereka memang sederhana namun indah.
   Ibuku mungkin terlalu mencintai ayahku sehingga sepanjang menemani ayahku dalam sakitnya, ia pun ikut menjadi lemah. Entah apa yang terjadi pada tubuh ibuku, namun keadaannya ikut memburuk bersamaan dengan ayahku. Tubuhku menjadi sangat kurus dan matanya memancarkan kesedihan. Ternyata ibuku tak sanggup menyaksikan ayahku tersiksa. Ia selalu berdoa pada Tuhan agar Tuhan meringankan penyakit ayahku, namun ia sendiri lupa mendoakan dirinya. 3 bulan setelah ayah divonis sekarat, ibuku kembali ke pangkuan Tuhan setelah ia sempat susah bernafas. Ia meninggal di pangkuanku.
   Di hari kematian ibu dan 6 hari sesudahnya, ayahku sangat berduka. Ia menangis dan terus menangis hingga kejang-kejangnya kumat. Setelah sempat pingsan selama 2 hari, ayahku siuman. Dan kalimat pertama yang ia ucapkan setelah ia sadar adalah, "Nak, aku rindu ibumu".

   Sebulan berlalu setelah kematian ibu, aku menyadari bahwa harapan ayahku untuk bertahan hidup semakin menipis. Keluarga kami pun harus bersusah payah bangkit setelah kematian ibuku karena kami masih punya ayah yang sekarang juga sedang terbaring sekarat. Hingga tiba di saat ayah memanggilku untuk mengutarakan sesuatu.
   "Aku tahu aku akan segera menyusul ibumu, nak", ujar ayahku sambil tersenyum lemah. Aku tidak menjawab dan memutuskan untuk mendengarkannya saja.
   "Aku segera rindu pada ibumu. 49 tahun kami melewati kehidupan pernikahan dan baru kali ini aku sangat merindukannya. Kami tidak pernah berpisah selama ini". Air mataku menetes.
   "Terkadang tumor ini membuatku lupa siapa aku dan orang-orang di sekelilingku tanpa aku inginkan. Tapi ada saat dimana aku selalu mengenali wajah ibumu. Dia memang jodohku dan aku merindukannya. Aku bersyukur telah mengenal perempuan semanis ibumu. Aku merindukan teh buatannya dan jemarinya yang lembut. Aku merindukan suaranya yang merdu. Aku merindukan ibumu. Dia pasti sudah menungguku di surga. Dengar, nak, kami akan segera menjadi sepasang pengantin surga", ujar ayahku.
   Aku mendengar dengan seksama setiap kata yang diucapkan ayahku kemudian bersyukur bahwa ayah sangat mencintai ibu dan demikian pula sebaliknya.
  Ayahku mengusap air mata di pipiku dan kemudian melanjutkan perkataannya sambil menutup mata, "Bu, sabarlah. Aku segera datang", bisik ayahku. Kemudian ia pun pergi.
   Tak ada tangis menyayat hati ketika kami sekeluarga melepas kepergian ayah. Begitu juga saat kami menabur abu ayahku di tengah-tengah teluk Kiluan. Saat itu kami begitu ikhlas dan bahagia menyadari bahwa ayah telah bertemu dengan pengantinnya di surga, yaitu ibuku. Tidak ada hal yang lebih indah dibanding menyaksikan pertumbuhan cinta kedua orangtuaku yang abadi. Aku belajar banyak dari kisah mereka dan bersyukur karena telah mengenalkan aku cinta yang seutuhnya. Meski sederhana, namun mereka tidak pernah berhenti mencinta. Aku memang belum mengenal maut dan kehidupan sesudahnya, namun kisah cinta kedua orangtuaku meyakinkan aku bahwa maut bukanlah pembatas kisah percintaan manusia. Karena yang tulus mencinta tidak akan pernah benar-benar terpisah, meski oleh maut sekalipun. Cinta, itulah satu-satunya hal di dunia yang tidak memiliki usia.






by:
Esra Masniari Tambunan

Selasa, 17 Juli 2012

50 Things About Me (You Should or You Shouldn't Know!)


Iseng-iseng pengen narsis dikit, ah, ngasihtau kalau gue itu.......


1. Esra Masniari Tambunan
2. Lahir di Pekanbaru di bulan penuh cinta, yaitu Februari tanggal 06 di tahun 1991
3. Anak sulung dari 4 bersaudara. Adeknya 2 cewek, 1 cowok.
4. Sayang banget sama keluarga, meski ngga selalu bisa membuat seneng mereka.
5. Setia banget sama warna pink.
6. Egoisnya tinggi tapi kata orang sih, shio kuda emang begitu #ngelesyakamuh
7. Galak! Yes, beware of Echa =D
8. Ngga suka digombalin! Sukanya ngegombalin *wink*
9. Selera cowoknya tinggi: ganteng, smart, cool, tajir, setia =D
10. Cinta mati sama duren! :9
11. Suka bangeeeeet nonton film bagus dan hanyut dalam film tersebut.
12. Suka bangeeeeeeeet travelling, karena menurut gue, travelling artinya berbahagia.
13. Paling nggasuka dibohongin dan dikira begini, padahal begitu! Langsung deh nanti galaknya muncul.
14. Sensitif lalu menjadi cengeng.
15. Kuliah di jurusan sastra Inggris, namun kadang menyesali ngga jadi ngambil jurusan psikolog dulu :'(
16. Cinta sama dunia tulis-menulis, meski kadang suka males nulis, dan bermimpi untuk menjadi seorang penulis terkenal! Amin
17. Nggabisa dipungkiri, suka banget nyanyi. Suka banget!
18. Suka baca buku, khususnya yg bertemakan fakta dan psikologi.
19. Kalau libur bangunnya siang banget, tapi sekarang lagi berlatih untuk bangun pagi. Biar jodohnya deket kata mama dan bou-bou yg bawel :D
20. Suka banget lasagna nya "Dixie", tapi sayangnya restoran yg berlokasi di daerah Lippo Karawaci itu udah tutup :'(
21. Bawel banget. Yes, gue suka banget ngobrol~
22. Suka banget yg namanya kebersihan dan kerapihan. Makanya suka mencak-mencak sama adek-adek dan sepupu-sepupu kalau kamar dan rumah diberantakin.
23. Pecinta anak kecil! Pengen banget cepet-cepet menikah dan jadi ibu :3
24. Pet lovers. Pengen melihara banyak hewan, kayak singa, beruang, burung dan musang.
25. Sayangnya cuman bisa pelihara anjing sekarang, namanya Juno. Dia lucu sekali. Aku sayang Juno ku :*
26. Panikan.
27. Susah banget tidur kalau ngga hening dan gelap.
28. Nggabisa diem.
29. Setia tapi gampang bosen :p
30. Dulu suka banget coklat, tapi sekarang biasa aja :O
31. Romantissss. *Ciee*
32. Suka hampir semua jenis musik, terutama hip hop, pop, dan reggae!
33. Punya impian jadi seorang hip hop dancer :))
34. Pengen jadi penyanyi terkenal tanpa digossipin macem-macem.
35. Suka meluk dan nyium. Sweet nyaa :''3
36. Berharap banget yg namanya cicak dan kodok itu ngga pernah ada di dunia ini :"""(
37. Ngga begitu suka pizza.
38. Entah kenapa selalu punya geng sedari SD :D
39. Usil dan kocak.
40. Gampang dibohongin tapi langsung cepet taunya. <<-- KASIAN!
41. Nggabisa a.k.a ngga berani mengendarai motor semenjak baru seminggu belajar motor udh nabrakkin kap lampu motor baru sampe pecah.
42. Pernah dilamar untuk menikah sama cowok yg baru seminggu PDKT sama gue-___- Bhahaha..
43. Cukup beruntung untuk bisa dapet akses bermacam-macam waktu ngefans sama Vita Marissa.
44. Ngga pernah beruntung tiap ikut quiz T.T
45. Suka banget sama The Script, Bruno Mars, Beyonce, Pussycat Dolls, Kelly Clarkson, Souljah, Sheila on 7, Maroon 5, Black Eyed Peas, Katy Perry, Ne Yo, dan ngga ketinggalan, Karmin!
46. Bisa ngerap meski ngga jago-jago banget.
47. Ngefans sama Edison Chen dan rela begadang demi nonton MTv Whateber Things waktu SMP dulu dan sedih banget waktu doi kena konflik video porno lalu ngundurin diri dari dunia keartisan :(
48. Selalu kepengen lychee martini all the time.
49. Kristen dan bukan fanatik ;)
50. Suka berbacot ria di akun twitternya: @echamsnr_t ;)


Ngga cukup sebenernya menggambarkan diri gue dalam 50 poin, tapi cukup segitu karena gue mau lo tahu gue dengan mengenal gue secara baik! :P

Sekian dan terimakasih~




Esra Masniari Tambunan.

Minggu, 17 Juni 2012

Simply Not Another Fairy Tale (Short Story)

   Cahaya itu datang lagi. Kali ini aku bisa merasakan hangatnya. Lalu kulihat wajah yang sudah tak asing lagi. Ya, wajah itu. Wajah yang sangat kukenal jelas, dan sangat kurindukan. "Bicaralah", ujarku dalam hati. "Aku rindu sekali mendengar suaramu". Kemudian sosok itu mendekat. Ia tersenyum. Lelaki berdada bidang itu kemudian menyapaku, "Hai, Lana".

   "Lana, lana? Bangun, dong". Aku menggeliat pelan. Mataku mengerjap-ngerjap, perih untuk kubuka.
   "Lana? Udah jam berapa nih? Bangun, dong. Bikinin sarapan untuk aku". Aku membuka mata dan tampaklah sebuah wajah tampan di depanku, Michael.
   "Tumben banget sayang, aku lebih dulu bangun? Kamu capek banget ya?" ujar Michael, suamiku. Kemudian ia mengecup keningku. "Selamat pagi", katanya manis. Aku tersenyum membalas ucapannya. "Maaf ya, bang, aku telat bangun. Sekarang aku bikin sarapan dulu, deh". Michael mengangguk sambil kemudian mengelus lenganku yang melenggang menuju kamar mandi untuk menyikat gigiku serta membasuh mukaku dengan air dingin, lalu segera melakukan kewajibanku sebagai istri di pagi hari, yaitu membuatkan sarapan.


   Aku mengaduk-ngaduk secangkir teh yang sudah mulai mendingin di hadapanku. Mataku menerawang jauh, memikirkan mimpi semalam. Ia lagi. Randy. Lagi-lagi Randy muncul di mimpiku, membuat aku galau tak karuan. Sepanjang pagi ini aku sibuk tertegun memikirkan mimpiku semalam. Mengapa lagi-lagi Randy muncul di mimpiku? Kukira, setelah aku menikah, aku tidak akan lagi memimpikan Randy. Namun ternyata tidak; tidak ada yang berubah. Lagi-lagi bayang Randy merasuki mimpiku. "Hhh...", aku menghela napas. Kurasakan mataku mulai membasah, lalu air mulai tergenang di pelupuk kedua mataku. Air mata itu kutahan sebisa mungkin untuk mengalir, yang kemudian aku sesap dalam-dalam.

   Randy Hermawan. Nama itu masih terngiang jelas di telingaku. Sosoknya yang ramah dan sangat kukenal itu selalu lekat di benakku. Mengapa tidak? Randy adalah sahabatku semasa SMP. Ia adalah satu-satunya sahabat lelaki ku saat itu. Kedekatan kami terjalin saat kami masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Randy adalah teman semeja pertamaku, yang membuat aku mengenalnya.
   Bicara mengenai Randy tak akan pernah habis. Randy adalah sosok sahabat yang menyenangkan. Ia supel dan cerdas. Randy juga tidak banyak omong, namun juga tidak pendiam. Terkadang dia usil, namun keusilannya hanya sekedar iseng belaka, tidak membuat aku repot. Di mataku ia merupakan sahabat yang sempurna. Meski aku juga memiliki sahabat-sahabat perempuan, Randy tidak pernah mencampuri urusanku dengan mereka. Aku dan Randy memiliki lingkaran persahabatan kami sendiri. Tidak seperti cerita novel kebanyakan, aku dan Randy bukan teman berbagi cerita curhat-curhatan, namun kami saling percaya satu sama lain. Selain sering saling mengirim pesan singkat melalui telepon genggam kami, aku dan Randy juga sering janjian mendengarkan radio di malam hari. Randy juga bukan sahabatku untuk sekedar kongkow-kongkow. Jarang sekali kami untuk sekedar jalan bersama, namun aku tetap merasa Randy adalah sahabat kentalku.

   Ia memandangiku, namun tidak tersenyum. Aku menatapnya dari kejauhan. Kemudian ku saksikan ia berbincang-bincang dengan teman-temannya. Aku terbangun. Masih pukul 5. Aku menghela nafas. Lagi-lagi, aku bermimpi mengenai Randy. Mengapa ini semua terjadi? Mengapa sering sekali Randy hadir di setiap mimpiku? Padahal aku tidak sedang rindu atau memikirkannya! Aku memijit kepalaku. Pening rasanya, karena masih mengantuk. Kutatap wajah Michael, suamiku, yang masih pulas tertidur. Kudekap erat lengan kokohnya itu. Aku hampir menangis. "Kebangun, lan?" ujar Michael sambil tetap terpejam. Kemudian ia melingkarkan lengannya ke tubuhku. Aku tertidur kembali, merasa nyaman di pelukan suami yang telah menikahiku 3 bulan lalu itu.

   Aku masih hafal jelas hobi Randy: bermain sepakbola. Hobi Randy tentu bukanlah hobiku. Aku lebih memilih untuk menggeluti olahraga bulutangkis dibanding olahraga sepakbola. Namun, bagi Randy, sepakbola adalah kecintaannya. Ia sangat menikmati jam-jam dimana ia berlatih menendang dan mengoper benda bulat yang dimainkan oleh kaki itu bersama teman-temannya. Ada waktu dimana aku ingin menonton pertandingan sepakbola Randy. Kala itu, Randy menitipkan telepon genggamnya padaku. Aku tersenyum mengingat Randy. Ah, Randy. Masih ingatkah ia padaku sekarang? Sudah 9 tahun berlalu semenjak kelulusan SMP kami, dimana aku dan Randy berpisah. Semenjak itu pula aku belum pernah lagi bertemu dengan Randy.
   Tentu saja aku rindu pada Randy. Di hati kecilku, aku tahu bahwa Randy adalah cinta pertamaku dan Randy tidak pernah beranjak dari hatiku. Ia tetap tinggal dan bersemayam di hatiku, meski telah menahun berlalu semenjak perpisahan kami.


   Tidak mudah bersahabat dengan lawan jenis, begitu kata orang-orang kebanyakan. Bisa saja kedua insan itu saling jatuh cinta atau salah satunya jatuh cinta sedangkan yg lain hanya menganggap sahabat saja, tidak lebih. Antara aku dan Randy, aku tidak tahu apa yg terjadi. Mungkin lama-kelamaan aku kagum pada sosok Randy yg sederhana dan membuatku merasakan lebih terhadap Randy. Ketika teman-teman sekelas kami mengolok-olok persahabatan kami, awalnya aku masa bodoh. Namun entah mengapa, lama-kelamaan aku merasa risih. Aku menjauhi Randy beberapa saat kala itu. Enggan berbicara lama-lama pada Randy dan enggan bermain bersamanya. Singkat kata, aku dan Randy menjadi jauh.
   Bodohnya diriku saat itu. Seharusnya aku tahu bahwa aku tidak mungkin menjauhi sahabatku yg satu itu.  Tentu saja setelah menjauh dari Randy selama beberapa saat, aku kemudian merasa rindu pada Randy. Namun ternyata aku salah. Jarak sudah terlanjur membunuh kami perlahan-lahan. Randy juga ternyata merasa gerah akan sindiran teman-teman kami. Intinya, kami tidak pernah sama seperti dulu lagi.

   Aku kehilangan sosok Randy. Randy dan aku tidak pernah lagi bersahabat erat seperti dahulu. Ada jarak yg menyakitkan yg membatasi kami berdua. Aku tidak tahu mengapa, namun hingga masa SMP berakhir, aku tidak bisa membalut retakan hubungan persahabatan kami begitu saja. Di hari terakhir sekolah, aku yg harus pindah rumah bersama keluargaku ke kota lain keesokan harinya, hanya bisa merasakan jantungku berdegup cemas saat melihat punggung Randy berjalan menjauh dariku. Harusnya saat itu aku memanggilnya. Harusnya saat itu aku merekatkan ikatan kami lagi. Harusnya aku tahu bahwa rasa sakit keretakan itu membawaku pada rasa tersiksa selama bertahun-tahun. Harusnya aku mampu, minimal, memanggil namanya.


   "Sayang, nanti malam kita makan di luar ya?" ujar suara suamiku di seberang telepon.
   "Tumben. Emang kenapa?" jawabku sambil memilih-milih anggur yg ingin kulahap.
   "Hari ini kan anniversary kita, sayang. Masa lupa?" Nada bicaranya terdengar kecewa.
   Aku tertegun sesaat. Oh ya, tanggal 25.
   "Duh, maaf bang, bukannya lupa. Mungkin aku sudah terbiasa dengan pernikahan jadinya month anniversary nggak kehitung lagi hehe", ujarku.
   "Dasar kamu. Yaudah pokoknya nanti malam aku pulang kantor langsung jemput kamu ke rumah, ya. Dandan yg cantik, ya, sayang".
   "Aku sudah cantik, sayang. Nggak mandi pun aku sudah cantik", candaku.
   "I know, baby. That's why I marry you", kemudian suara tawa Michael terdengar renyah di telingaku.


   Malam ini dengan balutan gaun hitam panjang bergliter berdada rendah serta berpotongan paha yg tinggi, aku siap menikmati dinner romantis yg Michael rencanakan. Aku asyik menikmati rib steak sambil bercengkrama mesra dengan suamiku yg humoris itu ketika tiba-tiba mataku menangkap sosok tak asing yg sukses membuat badanku panas seketika. Randy... Benar, itu pasti dia. Aku melihat Randy sedang duduk sendiri di meja yg tak jauh dari mejaku. Tenggorokanku tercekat. Seketika senyumku hilang dan Michael menyadari itu.
   "Sayang, kok tiba-tiba diem? Ngeliat apa sih?" tanyanya sambil menengok ke arah mataku sedang menatap.
   Aku menunduk. "Nggak. Tadi rasa saus dagingnya agak asin", kilahku cepat.
   "Masak sih? Tumben banget masakan di sini nggak sempurna, sayang".
   "Aku mau ke toilet sebentar", kataku cepat sambil buru-buru menuju toilet.

   Di toilet, aku menatap cermin dan mematung. Aku melihat Randy lagi. Setelah 9 tahun berlalu dan akhirnya aku melihatnya lagi? Aku hampir tidak mempercayai mataku. Tapi, aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan. Ingin sekali aku menyapanya dan melepas rinduku. Tetapi aku tahu, meski suamiku sedang tidak bersamaku sekarang, aku tidak akan berani berbuat begitu. Juga, aku tidak berani kembali ke kursiku sekarang dan melihat Randy lagi dari arah kursiku. Aku tidak tahu harus bagaimana.

   Aku menangis. Ya, sesampai di rumah dan setelah Michael tertidur pulas, aku keluar kamar dan berdiri di balkon rumahku sambil mengalirkan air mata yang tidak dapat lagi kutahan. Aku menyesal tidak menyapanya tadi, namun tidak juga tahu apa yg semestinya kulakukan. Yg aku tahu, rinduku padanya telah membunuhku dan aku mau tidak mau harus menikmatinya.

   Sebulan berlalu setelah kejadian itu, aku bermimpi lagi mengenai Randy. Di mimpiku, Randy masih lah bersosokkan seorang anak laki-laki SMP yg bertubuh lebih pendek dariku. Ia melirikku dan tersenyum padaku. Lalu aku terbangun. Aku menangis. Aku terlalu rindu padanya. Mungkin aku terdengar cengeng, namun semenjak aku melihat Randy lagi setelah 9 tahun berlalu, aku semakin merasa pikiranku agak kacau. Dan mimipiku kali ini membawaku pada tekad untuk mencari tahu Randy lagi. Kali ini, aku harus bertemu dan berbincang dengannya.
   Tidak mudah mencari tahu mengenai Randy. Setelah aku kembali log in pada akun Facebook ku yg hampir setahun tidak lagi kubukan, aku mengetikkan nama lengkap Randy dan mencari akun Facebooknya. Tidak kuperdulikan lagi ratusan notifikasi Facebook ku yg saat itu sudah menggunung.
   "Dapat!" seruku dalam hati ketika melihat akun Facebook Randy dengan foto profilnya yg masih bisa kukenali dengan baik. Foto sederhana yg sempat membiusku. Tidak ada yg luar biasa dari wajah itu, namun tetap bisa membuat anganku melayang-layang tak menentu.
   Ketika aku hampir berniat menambahkan akun Randy ke akun pertemananku, aku termangu. Ingin apa aku setelah Randy menerima akun pertemananku? Entahlah. Aku mengurungkan niatku. Setelah menimbang-nimbang selama beberapa saat, aku memutuskan untuk langsung mengirimi pesan ke Facebooknya saja.
  
   "Hai, Ran. Apa kabar?:)"
   Sent.
   Seminggu berlalu dan selama seminggu itu pula aku rajin memeriksa Facebook ku untuk melihat balasan dari Randy. Seminggu berlalu dan akhirnya aku melihat bahwa Randy telah membalas pesanku. Aku terhenyak.
   "Hai, Lan. Gue baik-baik aja. Kenapa nih?"
   Aku kecewa. Debaran di jantungku saat membuka pesannya terganti menjadi rasa mencelos yg dalam di dadaku. Setelah 9 tahun berlalu dan sapaan ramah pesanku di akun Facebooknya dan dia hanya menjawab datar pertanyaanku? Tanpa menanyakan balik kabarku? Sebegitu dinginnya kah ia mau berbuat terhadapku? Bukankah aku sahabatnya? Dulu.
   Aku hampir memutuskan untuk tidak usah saja membalas pesannya. Namun rasa rinduku mengalahkan hal itu.
   "Gak apa-apa. Kan udah lama nggak ketemu hehe. Tinggal dimana sekarang, Ran?"
   Sent.
   Setelah menghela nafas sebentar, aku membuat teh untuk diriku sendiri. Sambil menyesap tehku dalam-dalam, aku beranjak kembali ke Facebook ku. Namun ternyata, tanpa disangka ada sebuah pesan lagi masuk ke Facebookku. Randy membalas pesanku!
   "Masih di Salemba, Lan. Lo?"
   Tanpa berpikir panjang aku segera meminta pertemanan ke akun Randy. Dengan harap-harap cemas dan menggigit-gigit kukuku, aku menunggu Randy untuk menerima permintaanku. Dengan begitu kami jadi bisa lebih leluasa untuk mengobrol melalui fitur chat yg dimiliki Facebook. Satu jam berlalu dan aku kecewa. Nampaknya Randy telah sign out. Aku memutuskan untuk membalas pesannya saja.
   "Gue sekarang di Kebon Jeruk, Ran. Btw, request gue segera diconfirm ya. Gue mau ngobrol banyak sama lo :)"
   Sent.
   "Mau ngobrol apa, Lan?" Randy membalas pesanku lagi! Aku heran. Kenapa dia tidak segera menerima permintaan pertemananku saja? Seketika aku menjadi sedih.

   "Kok lo gitu sih, Ran? Masa iya lo nggakmau nerima permintaan pertemanan di Facebook dari temen lama lo?"
  
   "Ye dia nanya balik haha".

   "Ah, elo mah. Gue mau ngobrol, Ran".

   "Loh, ini lagi ngobrol. Tapi dari tadi lo nggak ngomong apa-apa. Bedanya apaan?"

    "Biar lebih cepet, Ran".

    "Ini gue bales cepet, kan? Gue lagi on line kok, sampe malem".

   Aku tidak tahan lagi berbalas pesan yg tidak ada kemajuan seperti ini.
   
   "Gue kangen sama lo, kali. 9 tahun, Ran, kita nggak ketemu".

   Lama menunggu balasan pesan Randy dan aku kembali gugup. Kira-kira apa yg akan Randy katakan?

   "Hahahaha". Itu saja jawabannya setelah hampir setengah jam aku menunggu.

   "Ketawa?"

   "Yaiya".

   Sedih membaca pesannya, namun aku tidak mau tahu lagi. Aku harus mengutarakan isi pikiranku selama ini padanya.

   "Gue kangen lo, Ran. 9 tahun nggak ketemu, lo selalu muncul di mimpi gue. Gue nggak ngerti kenapa begitu. Tapi yg jelas, gue pikir setelah menikah sama Michael, gue bakal berhenti mimpiin elo karena toh gue merasa jatuh cinta sama Michael. Dia pria yg hampir sempurna. Tapi gue masih tetap mimpiin lo, bahkan sampe semalem. Gue masih aja mikirin lo, si sederhana. Lo sahabat gue selama di SMP dan gue kangen masa-masa itu. Gue kangen bercanda sama lo. Gue kangen lo nelpon gue cuman untuk nanya PR. Gue kangen duduk sebangku sama lo terus bercanda-canda. Gue kangen main drama sekelompok sama lo. Gue kangen main balap mobil sama  lo. Gue kangen ngerjain elo. Gue kangen lo usilin. Gue kangen lo minjem gunting sama gue. Gue kangen kerja kelompok bareng elo. Gue kangen tukeran hp sama lo. Gue kangen mergokin elo yg lagi ngupil. Gue kangen ngeliat lo main basket meskipun elo pemain basket yg paling pendek, Ran. Gue kangen elo, Randy. Dan butuh keberanian besar untuk gue ngomong kayak gini sama lo. Maafin gue, Ran. Gue cuman mau elo tahu kalau gue ternyata selalu mencintai elo dan maaf, karena gue baru sadar selama 9 tahun ini. Maaf... Gue cuman pengen memutar waktu ke 9 tahun lalu, Ran, dan mengulang-ulang waktu itu. Gue pengen waktu berhenti di waktu ketika kita masih SMP. Maaf, Randy. Gue cuman kangen elo. Bahkan nomor handphone lo pun masih bersarang di otak gue sampai sekarang. Sesusah itu menghapus kenangan sederhana itu, Ran. Sesederhana ketidakmengertian gue akan perasaan gue sama lo. Sesederhana perasaan rindu gue yg tidak gue minta elo membalasnya. Sesederhana itu semua. I love you, Ran. I'm sorry for that..."

   Sent. Aku menghela nafas panjang. Setitik air mata perlahan muncul di sudut mataku. Aku menyesap tehku dalam-dalam.


   5 tahun berlalu semenjak aku mengirim pesan terakhirku kepada Facebook Randy. Dia tidak pernah membalasnya hingga detik ini. Pada awal-awal aku mengiriminya pesan itu, aku rajin mengecek Facebookku. Terkadang saat Michael sudah tertidur pun aku diam-diam mengecek Facebookku, namun tetap tidak ada balasan dari Randy. Aku memperhatikan bahwa Randy sudah beberapa kali mengganti foto profilnya namun tidak sekalipun menggubris pesanku atau menerima permintaan pertemananku. 2 tahun menikah dengan Michael, aku menjadi sibuk menikmati peranku sebagai ibu dari Brianna Holly, anak pertamaku dan Michael. Kehadiran Brianna sempat membuatku mengalihkan penantian dari balasan pesan dari Randy. Namun jujur, dari hatiku yg terdalam aku masih menantikan balasan pesannya.

   7 tahun berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa Randy akan membalas pesanku. Dia tidak akan membalas pesanku, aku berkesimpulan. Penantianku berakhir dengan sesederhana itu. Sesederhana kisahku dengan Randy, cinta pertamaku. Tidak ada yg spesial. Good bye, Randy. Love is simple. Simple as you.***







by:
Esra M. Tambunan